Matematika dalam Kisah Pisang dan Pengemis

pisang-490x367
BELAJAR matematika bukan sekadar bisa menghitung dan menjumlahkan angka-angka saja, namun esensinya lebih dari itu. Matematika bukan sekadar rumus yang hanya ada dalam sebuah buku, tapi rumus-rumus itu sejatinya bisa diterapkan dalam kehidupan. Apalagi kita sebagai orangtua, memiliki peran untuk mengajarkan anak-anak bukan sekadar teori dan rumus, tapi juga akhlak dan nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Seperti dalam kisah berikut ini.

Ilo adalah anak laki-laki berusia tujuh tahun. Ilo memiliki seorang kakak perempuan yang bernama Audi berusia sepuluh tahun. Di rumah, Ilo tinggal bersama ayah, ibu, kakek, nenek, dan kakaknya.

Suatu pagi di hari minggu, ibu mengajak Ilo ikut berbelanja ke pasar tradisional di dekat rumah. Ibu mau membeli pisang untuk sekeluarga. Sampai di pasar, ibu dan Ilo menuju warung buah-buahan.

Ibu bertanya kepada Ilo,”Ilo, coba kamu pilih pisang satu sisir untuk seluruh anggota keluarga kita di rumah. Coba hitung berapa jumlahnya.”

“Semuanya ada enam, termasuk Ilo, bu,” jawab Ilo.

“Kalau setiap anggota keluarga kita mendapat 2 pisang, maka berapa jumlahnya,” Tanya ibu.

“6 dikali 2 jadi 12 buah, bu”, jawab Ilo setelah menghitung dengan bantuan jari tangan dan jari kakinya.

“Kalau begitu, carilah jumlah pisang yang satu sisirnya berisi 12 buah,” kata ibu dengan lembut.
.
Ilo tampak kebingungan, pasalnya dia tidak menemukan satu sisir pisang yang berisi persis 12 buah.

“Bu, tidak ada yang isinya persis 12 buah,” kata Ilo sambil garuk-garuk kepala.

“Carilah yang paling mendekati jumlah 12. Boleh lebih tapi tidak boleh kurang dari 12,” saran ibu.

Ilo pun mulai menghitung kembali dan menemukan satu sisir pisang berjumlah 15.

“Ini, bu ada yang jemlahnya 15 buah!” seru Ilo.

Setelah tawar-menawar, Ibu pun membayar harga pisang tersebut. Ibu dan Ilo pun hendak pulang kembali ke rumah. Namun, begitu keluar pasar, Ilo kasihan melihat seorang ibu yang membawa anak kecil mengemis di pintu pasar.

“Bu, apakah aku boleh memberikan kelebihan jumlah pisang yang tadi kita beli kepada ibu dan anak pengemis itu?” pinta Ilo.

“Boleh, tapi jangan mengurangi jatah keluarga kita, ya” jawab ibu.

“Terima kasih, bu, tadi jumlah pisang 15 dan jumlah keluarga kita 12, berarti 15 dikurangi 12 sama dengan 3,” jawab Ilo sambil menghitung.

Ilo kemudian mengambil 3 pisang dan dilepaskan dari tandannya lalu memberikan kepada pengemis di depan pintu gerbang pasar tersebut.

“Terima kasih,”kata anak pengemis tersebut.

Ilo pun tersenyum sambil mengangguk dan meninggalkan pasar dengan senyum kebahagiaan sambil menggandeng tangan ibunya. Ibu pun tampak bangga pada Ilo yang memiliki kepedulian sosial terhadap sesama.

Sumber:

_https://www.islampos.com/matematika-dalam-kisah-pisang-dan-pengemis-227193/

_Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif, dan Kreatif. Retno Listyarti. Jakarta: Esensi Erlangga Group

Add Comment